Tampilkan postingan dengan label #pekase. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #pekase. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Mei 2011

SANG MUROBBIYAH

Allah…

Tiada yang mampu terucap selaen Engkau, belum kering airmataku selama satu pekan ini Kau senantiasa mengingatkan aku akan dzikrul maut yang sejatinya sangat dekat. Setelah kecelakaan Ayah hampir 3 pekan lalu, kemudian suatu pagi di pekan lalu sebagai bentuk kecintaanMu pada kami, kembali sosok murobbiyah kami ustz.Suharni [Isteri Ust.Tamin—Mantan Ketua DPC Pondok Gede dan Mantan Redaktur Majalah Sabili] harus pergi meninggalkan kami, tak banyak yang terekam sosok beliau, terakhir kami satu halaqoh memang pernah ‘berguru’ padanya karena murobbiyah kami memiliki keperluan [karena sakit yg mengharuskan bedrest], jadilah selama hampir 2 bulan kami bersama beliau, sosoknya yang bersahaja ditambah ketegasan yang beliau miliki membuat kami segan terhadapnya namun semakin terpacu untuk menjadi kader muslimah sejati. Selamat jalan ummi…

Kesedihan selanjutnya datang seperti berurutan, sahabat dan kakak kami penulis nasional yang karya2nya juga mendunia harus Kau ‘jemput’ pula hari Rabu lalu [18/5] Mba Nurul F.Huda, aku mengaguminya sebagai sosok penulis yang sungguh luarbiasa, karya2nya sering menjadi inspirasi tulisanku setelah mba Asma Nadia dan mba Helvy Tiana Rossa, semoga Allah juga melapangkan kuburmu mba..we love you…

Dan kini, masih dalam pekanMu, hanya berselang 2 hari kembali Kau ‘jemput’ Ummi, Murobbiyah, Da’iyah kami Ustz. Yoyoh Yusroh dalam sebuah kecelakaan mobil dini hari tadi [21/5] jam 03.30, Allah…Kau pasti memiliki rencana atas semua ini, dan tumpahlah airmata ini, kembali Kau ‘Jemput’ mutiara kami, sosok yang sangat bersahaja. Tidak banyak yang kutahu akan sosoknya, yang kutahu ia adalah ustazah yang hebat, ibu dari 13 anak yang semuanya Hafiz dan Hafidzoh, keluarga penghafal Alqur’an, di tengah kesibukannya sebagai anggota dewan hafalannya juga luarbiasa, hingga beliau mendirikan Alqur’An Center Ummu Habibah, Wanita yang sungguh hebat dan luarbiasa, Allahu yarham…

Tidak banyak yang terekam kebersamaanku dengan Almarhumah, terakhir yang kuingat aku pernah mewawancarainya dalam sebuah kesempatan saat beliau baru pulang dari kunjungan Parlemen ke Gaza dan dalam rangka memberikan bantuan untuk rakyat Gaza. Saat itu beliau mengisi acara yang diadakan oleh mahasiswa UI tahun lalu dan dimeriahkan oleh nasyid Shoutul Harokah dan Izzatul Islam. Aku datang agak telat, selain karena memang pada awalnya tidak memiliki rencana untuk datang ke acara tersebut namun entah mengapa naluri jurnalisku lebih kencang berdetak, saat itu hati kecilku mengatakan “kapan lagi bisa bertemu dengan ustz.Yoyoh’ siapa tahu bisa jadi narsum di radio”, entah ini sebuah guyonan atau bahkan firasat dan kini aku hanya bisa menitikkan airmata saat teringat akan ucapan yang nampaknya Allah belum mengizinkan.

Masih teringat jelas usai acara seperti biasa aku tak pernah bisa melewatkan ‘moment’ dimana dan kapanpun selama berpotensi menjadi berita maka aku akan mengejarnya, sejak awal mengikuti acara tersebut aku selalu bertakbir dan terus menatap wajahnya, bagaimana ia bercerita soal Gaza, perjuangannya bersama rekan2 untuk mampu masuk melewati perbatan demi perbatasan, saat bagaimana ia bersama rekan hampir berada diujung maut demi menghantarkan ‘tugas’ dan titipan saudara2 muslim Indonesia untuk Palestina dan mereka rela melakukannya karena tugas dakwah, Negara dan tentu ‘panggilan jihad’, gema takbir sontak menggentarkan ruangan. Tiba2 aku mencintai sosoknya, Ustz. Yoyoh.

Usai acara aku sudah mewanti2 panitia untuk mewawancarai beliau secara LIVE ke radio, namun karena padatnya kegiatan beliau panitia menawarkan untuk berdialog di mobil saja di parkiran kampus, akhirnya dengan tergopoh2 aku harus mengejar beliau yang sudah standby di mobil bersama sang suami H. Budi Dharmawan,

“mohon maaf, bisa ikut mobil kami saja jika ingin wawancara?”

Sapaan hangat yang tentu aku tak bisa menolak ajakan tersebut, akhirnya dengan keberanian aku masuk mobil beliau dan mulai melaju ke lokasi agenda berikutnya yakni KNRP di daerah Ragunan.

“mohon maaf ya mba, kami terburu2 harus mengejar rapat di KNRP, takut terlambat”

Subhanallah, padahal rapatnya baru akan mulai setengah jam lagi tapi ketakutan akan waktu membuat aku semakin cinta dengan sosoknya.

“apa yang bisa kami bantu?, mbanya dari mana ya?”

Ups aku hampir lupa kalau di sini aku sedang bertugas, keasikan melihat pasangan suami isteri di mobil ini, suaminya pak Budi menyetir dengan santai meski aku menilainya agak sedikit tergesa sementara almarhumah duduk di kursi depan bagian kiri dan aku di bagian belakang, mobil sedan yang kami kendarai jadi tidak terlalu jauh jaraknya. ‘amunisi’ jurnalis sudah kusiapkan sejak tadi,

“saya Dhea Qotrunnada dari Radio Sabili”

Ujarku seraya mengeluarkan ID PERS SABILI, ustazah Nampak yakin meski harus kembali bertanya,

“media barunya SABILI ya?, sukses ya buat media Islam”

Wah, aku semakin tergugah, perjalanan yang lumayan panjang dari Depok ke Ragunan, dengan sigap aku mulai mewawancarai beliau secara LIVE sekaligus merekamnya, tentang bagaimana perjalannya selama ke Gaza Palestina, kronologis sampai kerja2 dakwah dan kisah2 wanita Palestina di sana, suasananya demikian cair, sesekali kami mengurai tawa agar tentu tak terlalu kaku, satu hal yang aku ingat dalam perjalanan itu, setiap traffic Light yang dilalui selalu ada yang khas dari pasangan suami isteri ini, keduanya selalu menyiapkan uang recehan untuk anak2 jalanan atau pun pengamen, subhanallah pandangan yang jarang kutemui, santun, ramah, penyayang, menjadi anggota DPR tak membuat Ibu 13 anak ini membusungkan dada, menjadi wakil rakyat adalah amanah terbesarnya. Bahkan saat beliau bercerita tentang bagaimana perjuangan dan pengalamannya saat harus bertemu dengan tentara Israel di perbatasan saat itu ia dan rekannya hampir berada di ujung maut, matanya sedikit berkaca2 begitupun sang suami, handphone dan tape recorderku saja nyaris terjatuh jika tidak pada akhirnya dibantu oleh ustazah untuk dipegangnya sendiri. Sepanjang perjalanan hanya kemesraan yang tercipta, mobil yang kami tunggangi juga wangi aromaterapi yang memang sengaja dipasang, meskipun beberapa kali aku sempat terbatuk2 menahan asapnya,

“maaf ya mba, terganggukah?biar saya kecilkan”,

Ternyata pak Budi sang suami juga sedikit batuk, ada sedikit guyonan diantara mereka hingga kemudian ustazah mengecilkan aroma terapi tersebut. Saat itu ada pikiran nakal yang menari2, hum..jika ada penghargaan pasangan paling romantis aku akan menyematkannya untuk keduanya.

Tak terasa perjalanan kami sudah hampir sampai di KNRP, sebelum turun berulang kali beliau berpesan jadilah media islam yang jujur membangun kepercayaan diri, dan berulang kali pula ia meminta untuk tak segan2 berbincang dengan wakil rakyat, wah ustazah kalau semua wakil rakyat kayak ustazah mah hayuk aja gumamku dan bahkan satu hal yang membuat aku kembali berdecak kagum akan sosoknya adalah saat dimana kami bertukar nomor hape dan beliau bersedia untuk menjadi narsum jika diperlukan..Allah..hingga kini aku hanya mampu menangis jika mengingatnya, Allah Sang pemilik rencana hanya IA yang Maha tahu apa yang terbaik dan hingga kini aku belum berhasil membawanya untuk berbincang di studio ‘korak api’ kami hingga wawancara itulah wawancara pertama sekaligus yang terakhir buatku.

Dan kini, disela2 proses pemakaman almarhumah aku semakin menyesali diri karena aku tak bisa berada di tengah2 mereka para kader. Tokoh nasional, ikhwan, akhwat dan masyarakat Indonesia yang menghantarkan kepergiaannya karena tugas Negara-ku yang tak dapat ditinggalkan, namun di waktu DHuha tadi kusempatkan untuk sholat Ghaib semoga segala kebaikannya diterima Allah dan dimudahkan serta dilapangkan kuburnya atas do’a2 anak2nya yang sholeh dan sholeha.

Aku pun yakin banyak rekam kebaikan, siapapun yang pernah bersama beliau, baik dalam hitungan tahun, bulan, hari atau bahkan jam seperti diriku. Lihat saja, proses pemakaman beliau penuh sesak semua ingin mendoakan dan menyolati beliau, seorang sahabat di akun twitternya bahkan mengatakan suasana ini sama seperti ketika perginya Sang Murobbi Allahuyarham ust. Rahmat Abdullah.

Dan kini, sosok itu telah pergi meninggalkan kami, mutiara hati dan bangsa ini, putri terbaik negeri, sosok Bunda jutaan kader kami, SANG MUROBBIYAH kami. Dan aku pun bersyukur dapat bersama dengan beliau meski hanya hitungan jam yang sarat makna.

Lihat, sedemikian cintanya Kau pada saudara kami hingga mereka yang sangat baik sosok dan kepribadiannya Kau ‘jemput’ lebih dulu, sungguh bulan ini menjadi begitu indah karena telah Kau ingatkan kami akan dzikrul mautMu yang begitu dekat, hantarkan kami pula pada peraduanMu dengan khusnul khotimah seperti saudara2 kami yang Kau lebih cintai mereka dalam balutan kasihMu, jutaan do’a untuk kebaikan mereka dunia akhirat.

Selamat jalan, Ummi, Bunda, Ustazah…
“SANG MUROBBIYAH”
Kuatkan kami agar kami mampu melanjutkan estafeta dakwah ini, seperti tulusnya sosok dan kerja dakwahmu Lillahi Ta’ala…

Profil Ustadzah Yoyoh Yusroh

Ibu dari 9 putra dan 4 putri ini termasuk di antara 50 orang pendiri Partai Keadilan (PK). "Lima orang pendiri perempuan. Saya satu di antara 5 orang itu," paparnya kala itu.

Ketika PK baru dibentuk ia diminta untuk menjadi Ketua Departemen Kewanitaan. Setelah satu tahun ia mengundurkan diri lalu diamanahi menjadi Ketua MPP (Majelis Pertimbangan Partai). Istri dari H. Budi Dharmawan ini ketika terjun ked unia politik tidak pernah terpikir olehnya untuk menjadi anggota DPR. Pertamakali Yoyoh Yusroh masuk DPR ketika ia diminta untuk menggantikan rekannya dalam periode PAW.

Pada periode lalu Yoyoh terlibat dalam pembuatan UU PKDRT (Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga), UU PPILN (Perlindungan Pekerja di Luar Negeri) dan UU Praktik Kedokteran. Kini ia terlibat dalam Pansus Rancangan UU Pornografi dan Pornoaksi sebagi Wakil Ketua Pansus dan Rancangan UU Rancana Jangka Panjang Pembangunan Nasional. Dia pernah menjabat di Komisi VIII sebagai Wakil Ketua.

Yoyoh adalah salah seorang tokoh pendiri PKS. Wanita yang biasa disapa ustadzah Yoyoh ini dikenal sebagai sosok yang sederhana dan bersahaja.

Ibu dari 13 orang anak ini lahir di Tangerang, 14 November 1962. Dia menjadi anggota DPR sejak tahun 1999 dan sudah menempati sejumlah komisi.

Yoyoh juga kini aktif sebagai anggota Dewan Pakar ICMI Tahun 2005-2010, bidang Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Lansia.

Sejumlah tanda jasa pun pernah diterimanya, seperti International Muslim Women Union (IMWU) tahun 2000, International Muslim Women Union (IMWU) tahun 2003, dan Mubaligh National dari Departemen Agama Pusat tahun 2001.

Selamat jalan Ustadzah... Allahumagfirlaha warhamha wa’afihi wa’fuanha

yang sempat terekam oleh rekan kami akan sosok Bunda Yoyoh

berikut foto2 jelang prosesi pemakaman Almarhumah dari twitter bang Ferry Ardian foto prosesi pemberangkatan jenazah Ustz.Yoyoh

sholat jenazah diimami o/ ustadz dr.salim diikuti oleh ribuan jamaah #bundaYoyoh #fb
'sang murobbiyah' tetap tsenyum dlm balutan kain kafan.. #bundaYoyoh #fb
buku ucapn bela sungkawa di rmh dinas dpr..saat ini jenazah almh blm tiba tp pelayat sdh ramai #bundaYoyoh #fb
ini foto almarhumah, mujahidah dakwah, ustadzah yoyoh yusroh bsama keluarga.. -____- #fb

sumber profil dan foto:









Minggu, 17 April 2011

catatan #miladpekase

Hadirku di MILAD PKS ke 10 [2008]
Gelora Bung Karno Senayan
08:45

Padat penuh sesak dan berdesakan

Itu adalah kesan pertama yang terbaca saat kita menghadiri pesta akbar milad PKS ke-10. belum sampai stadionnya aja sudah penuh orang dengan atribut PKS. Engga di jalan raya, parkiran, halaman parkit puncaknya pas mau masuk stadion. Wah bejubel banget! Awalnya sektor yang dipakai hanya 13 – 16 tapi melebar hingga 24. tidak perlu harus menunggu lama dalam hitungan menit pun seisi stadion sudah penuh oleh para kader dan simpatisan  PKS.

Milad tahun ini bisa dibilang seru, selain pesertanya datang dari penjuru tanah air. Milad PKS kali ini benar2 spektakuler dan penuh ucap syukur, atas rangkaian prestasi dakwah yang di raih sepanjang kurun waktu 10 tahun ini. Benar2 segala pujian hanyalah milik Allah, dan keberhasilan ini adalah hasil sebuah perjuangan, namun kita belum menamatkan perjuangan ini. Justru kita baru memulaimya, memulakan perjuangan yang sesungguhnya sebab tak ada kata penghujung pada sebuah perjuangan.

Awalnya aku berangkat dari DPRa bersama dengan teman2, tapi nyatanya aku kalah cepat dan di tinggal deh. Alhasil berangkat sendiri. Sedikit garing sih, tapi enjoy aja, ternyata lebih seru tuh, di tengah jalan ketemu dengan rombongan PKS dari berbagai wilayah di Jakarta, jadilah ikut gabung karena ga tau jalan.

Sesampainya di SENAYAN, sengaja ga langsung masuk lokasi tapi aku lebih memilih untuk jalan-jalan muter2 keliling istora. Ada banyak rombongan yang mengerahkan semua pasukannya, ada ummahat yang kelimpungan juga bawa ‘pasukannya’, bahkan manula pun ikut serta. Akhirnya aku parkir motor dekat JCC jauh banget dari lokasi, habis bingung sendiri cari parkiran motor yang deket di mana, yah itung-itung sambil jalan2 lah. Kepanduan dan bapak2 polisi berkeliaran di sepanjang jalan. Wah seru juga yah liat mereka yang sibuk atur2 massa dan kendaraan.

#miladpekase-10
Sepanjang jalan menuju lokasi tak habis2nya senyum ini mengembang saat lihat jutaan kader dan simpatisan yang rela jauh2 datang dari segala penjuru tanah air hanya untuk mengikuti acara ini, ga wajib hukumnya tapi inilah bentuk komitmen kita pada partai dakwah ini. Padahal bisa jadi masih ada yang lebih penting dari hanya sekedar menghadiri pesta milad ini, tapi kupikir semua orang punya skala prioritasnya masing-masing. Seperti diriku, berangkat aja udah ketinggalan rombongan, belum lagi ga tau jalan dan ketakutan ama polisi karena surat motor g lengkap, terus harus ngejar deadline buku dan menghadiri pesta ini sendirian! Yah, sendirian!. Aku sendiri masih belum menyadari maksud kedatanganku ke sini. Dibilang wajib dan harus ga juga, bisa saja aku pulang dan memilih tidur beristirahat atau mengejar deadline buku, tapi hati ini ingin di sini. Mungkin karena ini kali pertama aku menghadiri milad PKS. Selain rasa ingin tahu yang tinggi, alasanku yang lain –mungkin- bisa jumpa fans dg teman2 satu perjuangan, kan seru!

Benar saja!, langkah gontai ini sempat terhenti dari ramainya orang dan segala hiruk pikuknya. Asli!, pesta kali ini benar2 meriah, sayangnya (lagi2) aku hanya sendiri! Sampailah aku di tribun 17, padahal janjian sama temen DPRa di tribun 13, tuh kan lagi2 aku sendiri, ada satu tempat di tribun 17 yang menarik pandangan mata ini, segera saja aku ayunkan langkah ini dan menyegerakan untuk duduk di deretan ke 5 dari bawah, ada 2 akhwat di sebelah kiri, sepertinya mereka juga hanya berdua saja, senasib pikirku, bedanya mereka berdua sedangkan aku hanya SENDIRI!!

Sebelum duduk aku sempatkan untuk menyapa 2 akhwat tadi, lumayan bisa untuk teman ngobrol, sayang kami tak berkenalan lebih jauh. Wah PeWe juga nih duduk di sebelah sini, meskipun jarak pandangnya tidak ideal tapi cukup nyaman buatku yang datang sendirian ke pesta ini. Kulebarkan pandangan ini ke seluruh sisi stadion yang jadi ikon negeri ini. Subhanallah…….hanya ucapan tasbih yang keluar dari bibir ini, Allah….betap hebatnya skenarioMu, aku dibuat terharu karenanya…..ternyata nikmat ya berada dalam barisan dakwah ini, kini mataku mulai basah, sungguh aku terharu akan semua ini, akan dakwah dan perjuangannya, untuk semua usaha yang diyakini pasti akan berbalas…..
Allah nikmatMu yg manalagi yang mampu untuk aku dustakan?

Lihat saja,
Tapak-tapak kaki itu,
Baik tua, muda, remaja dan bahkan…balita!
Pun turut memadati stadion ini
Aku hanya mampu tersenyum….
Terharu….
Inilah kerja dakwah kita
Tapi ini bukanlah akhir
Namun awal dari sebuah perjuangan panjang…..

Tak lama berselang, acara pun digelar…
MC membuka acara dan penonton disuguhi sebuah opening happen
Lagu Indonesia Raya
Lagi!
Air mata ini makin tak tertahankan
Robbana ja’alna baldatun thoyyibatun wa robbu ghofur….
…………………………………………………………………………………………

Semakin siang acara semakin seru, oia acara pembuka tadi diisi oleh sang Presiden PKS ust. Tifatul Sembiring, yang tak kalah kocak beliau membuka sambutannya dengan pantun2 jenaka yang membuat seisi stadion geeerrrr……ah ustadz kita yang satu ini memang humoris…..
;)
Selanjutnya, acara dilanjutin dengan sambutan Pak Presiden RI bapak DR. Soesilo Bambang Hudoyono, wah senangnya  pesta ini dihadiri oleh orang nomor satu di Indonesia……ada banyak hikmah dan pelajaran berarti dari seorang pemimpin Negara dan kesannya yang begitu dalam terhadap PKS membuat kami sebagai rakyatnya makin simpatik terhadapnya. Semoga Allah selalu memberi keberkahan kepadanya.

sayap kanan yang kian padat
Acara puncak pun segera digelar setelah menyanyikan satu buah lagu perjuangan BANGKIT BANGSAKU, nasyid ini memang sengaja dipersiapkan di hari jadi PKS yang ke-10 yg bertepatan pula dengan 100 tahun hari kebangkitan bangsa. Setelah beberapa acara terlewati seperti ucapan kesyukuran akan kemenangan dakwah dalam kancah politik, baik di tingkat kota, kabupaten bahkan provinsi. Seperti prestasi gemilang yang di raih oleh Provinsi Jawa Barat yang pada pemilihan PILGUB kemarin PKS memenangi perhelatan akbar itu. Dan itu artinya, tugas dakwah ini semakin berat dan tentu nikmat…..

Menjelang akhir acara (mungkin ini puncaknya), tampak dari kejauhan di tengah lapangan ada banner besar bertuliskan lambang PKS, aku pikir ini bendera banner yang terbesar kali ya?, yang bawa aja ada sekitar 20 org. setelah aba-aba dan dibuka dengan permainan alat musik akustik, maka dengan sigap para pembawa bendera besar tadi berlarian sambil membawa bendera besar tadi ke tengah lapangan, dan tau apa yang terjadi? Yap! Tampaklah bendera PKS melebar seperti hendak melahap isi stadion…..
Wah aku dibuat merinding melihatnya. Sayang saat itu tak membawa alat yang dapat merekam segala peristiwa…jadilah hanya bermodal HP untuk mampu mengabadikan semuanya….
Allahu Akbar!!

Jam di tanganku dan di stadion sama-sama menunjukkan pukul 11.00, itu tandanya aku sudah harus beranjak pergi untuk menunaikan amanah yg lain (ngegarap buku), jadi aku tak bias berlama-lama di acara ini, lagian dah mau selesai kan, lebih baik beranjak lebih awal kalau tidak mau berdesakan nantinya….

Pheeww…
Alhamdulillah, sampe juga di luar area….
Sambil berjalan menuju tempat parkir, kususuri jalan trotoar sambil sesekali mengedarkan pandangan ke sekeliling…..tiba-tiba aku teringat akan suatu hal, yang membuatku semakin merindunya…..
Satu hal…..
Allah…inikah nikmat cintaMu?


#MILAD PEKASE KE 13 2011

Tepat di hari ke 13 Jumadil Awwal 1432 H di tanggal 17 April 2011 ini milad partai Islam terbesar di negeri ini kembali digelar, banyak yang berubah, paling tidak dari catatan terakhir saat aku mengikutinya 3 tahun lalu, aneh, biasanya g pernah absen tapi entah mengapa milad ke 11 dan 12 terlewatkan untuk dicatat baru pada milad ke 13 kali ini –sempat—mengabadikannya.
masuk lewat pintu ini
Sebelumnya di milad ke 10 lalu bisa dibilang pengalaman perdana gw untuk hadir di pesta itu dan hanya seorang diri, tahun itu gw bukan siapa2, kader juga ga, simpatisan?lebih membingungkan dan kini saat kembali membandingkannya hanya ulasan senyum yang merekah, ternyata gw pernah ada dalam ‘sekelebatan’ pesta itu. Alhamdulillah.

Tepat di usianya ke 13 ini, angka 13 byk yg bilang ‘the lucky number’ dan akupun harus akui itu, partai Islam terbesar di negeri ini memang patut untuk mendapatkannya, mulai dari partai kecil namun dengan keteguhan dan nilai luhur yang diusung oleh para kadernya Partai ini mampu meraih posisi ‘bergengsi’ di parlemen dengan perolehan kursi di DPR yang naik hingga 40 persen di tahun pemilu 2009 lalu. itu baru di parlemen, belum lagi jatah 4 menteri dalam kabinet Indonesia bersatu jilid II Menkominfo, Mensos, Menristek, dan Mentan semakin mempercantik ruang gerak partai yang kini dipimpin oleh Ust. Luthfi Hasan Ishaq. Hal ini didasarkan pada pertambahan jumlah kursi yang didapatkan PKS di DPR RI periode 2009-2014. "Saat ini jumlah kursi kita di DPR ada 45 kursi dan kita dapat 3 kursi menteri, dan di periode 2009-2014 kita dapat 57 kursi, dan logikanya kursi kabinet juga bertambah, tidak hanya 3 kursi, tapi lebih,” ini yang dikatakan oleh kata Ketua DPP PKS, Mahfud Sidiiq di DPR RI usai pemilu lalu. [sumber Kompas].

ini dia view-nya..lumayan la ;)
setahun berjalan gegap gempita itu seolah surut, partai yang mngusung BERSIH DAN PEDULI ini sedang berada dalam masa ujianNya, benar kata bijak “Semakin tinggi pohon semakin tinggi pula angin bertiup”, semakin berada di atas semakin besar pula ujianNya, inilah sunnahtullah, rentetan peristiwa demi peristiwa terjadi, mulai dari isu korupsi, poligami hingga kasus video porno. Tapi inilah jalan kami, fitnah, ujian, senantiasa menyertai, tapi semoga hal itu tak menggoyahkan, tidak mengoyakkan, meski harus berpeluh darah, namun tetap menjadi evaluasi, apa yang tengah menggerogoti bangunan dakwah ini?kitakah?para pengemban dakwahnya?wallahu’alam, tapi tentu segenap khilaf dan kealpaan harus jadi pembelajaran efektif dan bersegera mencari formulanya sebelum ia semakin melumatkannya, naudzubillah, karena tentu tidak ada yang sempurna, bahkan untuk partai yang berbasis Islam.

Sedikit beralih ke pesta miladnya di tahun ini, tentu 3 tahun berlalu, semua masih memiliki bekas yang berarti, jika tahun lalu aku berangkat sendiri dan pulang juga sendiri namun tidak di tahun ini, meski harus berulangkali berfikir panjang, aku harus jadi apa besok di hari miladnya? Kader?petugas pengamanan? Penonton pasif? Panitia? Atau jurnalis? Banyak sisi yang bisa diselami, tapi multipersonalitas itu kadang membingungkan, hingga baru tadi pagi kuputuskan aku tetap menjadi jurnalis dan berangkat lebih awal untuk meliput acara ini. 3 tahun beralu memang kali ini semakin memantapkan aku, terlebih 2 tahun profesiku sbg jurnalis sangatlah riskan, akhirnya harus jadi ‘hidden people’ lagi, tapi semua tetap menyenangkan, seperti pagi tadi, berangkat tetap bareng DPRa, no atribut, konvoi bareng, sampe GBK masih lengang, sempat mengabadikan beberapa sudut sembari ikut merasakan aura posistif pesta ini bersama dengan seorang sahabat, yah, seorang sahabat, beda kan? Dibandingkan 3 tahun lalu, gw lebih mirip anak ilang, brangkat sendiri pulang juga sendiri, penonton yg pasif, tapi paling tidak ini agenda yg menarik untuk sisi jurnalis bagiku saat ini.

Tepat setengah8 pagi aku dan sahabatku sudah berada dalam area milad, jem segitu masih ‘sangat pagi’ buat Jakarta, cukup 20 menit untuk sampe ke GBK dari rumah, sampe GBK belum terlalu padat dan ini memang sengaja kami lakukan [datang lebih awal] karena memang bakal kabur lebih awal juga ^^v. memasuki pintu yang sama seperti 3  tahun lalu,
“ko g rame ya? Apa karena masih terlalu pagi”, ini kalimatku yg senantiasa terucap saat melihat massa yang datang, hum,,tidak seramai 3 tahun lalu, langsung saja pikiranku terbawa akan rekam jejak partai ini, hanya helaan nafas, hingga akhirnya “apa yang sudah aku lakukan untuk umat ini?”, seperti menghakimi diri, harus ada yang berubah di tahun2 selanjutnya.HARUS!!.

Yang unik, perjalanan kami menelusuri tribun ke tribun dari satu sektor ke sektor lainnya, mencari tempat yang nyaman, nyaman untuk diliat dan nyaman untuk kabur juga ^^v, sampelah pada pilihan tribun paling atas demi mendapatkan view yang mantab. Alhamdulillah setelah mencari2 tangga dan sempat jumpa fans dulu [meski tak banyak—hanya satu org saja dari ribuan umat--] dapat jua tempat yg ‘yummy’ tadi, tetap di sektor 13 [beskem depera] :D.

"kursi kuning itu" ;)
Alhamdulillah dapet pembukaan, meski tidak se’gemetar’ 3 tahun lalu, namun tetap saja ada rasa haru yg menggelegar, kembali kuedarkan pandangan ini, “yah masih sedikit”, itu komentar awal, baru 15 menit berlalu ucapan tersebut harus termentahkan, karena kemudian masing2 sektor mulai padat, kader dan simpatisan mulai berdatangan, wuih..riuh rendah, padat sangat, benar juga, jam8 itu masih terlalu pagi untuk Jakarta. Pandanganku sempat terhenti pada kursi kuning di belakang stage, kursi bagi para pejabat eselon, anggota parlemen, pimpinan parpol, tokoh nasional dan pejabat2 penting lainnya. Hanya satu yang terbersit tiba2 saat itu, suatu saat aku ada di antara kursi2 itu, semoga! J.

sayap kiri yang makin membludak
Acara ini memang untuk Jabodetabek tapi yg datang juga ada dari luar daerah seperti Bandung dan lainnya. Satu demi satu acara terlewati hingga pada penampilan Digo Oi dan Cokelat aku harus pamit untuk mengejar siaran jam 10, sayang bgt padahal jadi g dapet feelnya, tapi Alhamdulillah dripada harus berdesakan pulang nanti dan kewajiban siaran batal lbh baik nunggu reportase dari studio saja. Dan benar saja, lewat dari jam 8 GBK padat, penuh sesak, tak hanya lautan manusia namun juga lautan bis, beruntung aku dan sahabatku keluar lebih dulu melawan arus, panjang parkiran bus saja hingga jembatan semanggi, luarbiasa, kembali aku berdecak kagum, merinding!

Phuuffftttt…akhirnya sampe studio juga dlm 30 menit hem..mayan meski sedikit telat siarannya, tapi seru la semua kebagian, reportase juga dapet meski putus2, paling tidak ikut jadi cheerleaders di #miladpekase kali ini. Satu yang harus di lakukan KAMI HARUS BERBENAH!!

Dan masih dengan doa yang dulu “Robbana ja’alna baldatun thoyyibatun wa robbu ghofur”
Allahumma AMin..

Barokallah #miladpekase13